KONSEP DIRI

KONSEP DIRI

 

PERKEMBANGAN KONSEP DIRI

Pengertian Konsep Diri :

  1. Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalalm berhubungan dengan orang lain. ( Stuart dan Sundeen, 1998 ).
  2. Konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, baik fisikal, emosional, intelektual, sosial dan spiritual ( Beck, Willian dan Rawlin, 1986 )

Menurut Stuart dan Sundeen, ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri. Faktor – faktor tersebut terdiri dari :

  1. a.      Teori perkembangan

Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang secara bertahap sejak lahir seperti mulai mengenal dan membedakan dirinya dan orang lain. Dalam melakukan kegiatannya memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui kegiatan eksplorasi lingkungan melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama panggilan, pangalaman budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan pada area tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau masyarakat serta aktualisasi diri dengan merealisasi potensi yang nyata.

  1. b.      Significant Other ( orang yang terpenting atau yang terdekat )

Dimana konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain, belajar diri sendiri melalui cermin orang lain yaitu dengan cara pandangan diri merupakan interprestasi diri pandangan orang lain terhadap diri, anak sangat dipengaruhi orang yang dekat, remaja dipengaruhi oleh orang lain yang dekat dengan dirinya, pengaruh orang dekat atau orang penting sepanjang siklus  hidup, pengaruh budaya dan sosialisasi.

  1. c.       Self Perception ( persepsi diri sendiri )

Yaitu persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannnya, serta persepsi individu terhadap pengalamannya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat dibentuk melalui pandangan diri dan pengalaman yang positif. Sehingga konsep diri merupakan aspek yang kritikal dan dasar dari perilaku individu. Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif, yang dapat dilihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan individu dan sosial yang terganggu.

Tugas perkembangan konsep diri :

Usia

Tugas Perkembangan

0 – 3 bulan
  1. 1.      Dapat mengenal ASI
  2. 2.      Dapat memasukkan tangan ke mulut
  3. 3.      Meminum ASI secara eksklusif lebih kurang 6 bulan
3 – 6 bulan 1.      Mulai mengenal makanan pendamping ASI dengan satu rasa

2.      Menarik makanan dari sendok dengan lidah

3.      Pada saat kenyang akan menutup mulut jika disodori makanan

4.      Dapat pemberian makanan seimbang yang lunak (MP-ASI) dengan jadwal yang teratur

6 – 9 bulan 1.      Belajar mengunyah makanan lunak (nasi tim)

2.      Dapat makan biskuit sendiri

3.      Dapat mengunyah dan menelan makanan lunak

4.      Dapat minum dari botol minuman bertelinga dengan bantuan orang dewasa

9 – 12 bulan 1.      Mengunyah dan menelan makanan padat

2.      Minum dari botol yang ada pegangannya

  1. Mulai untuk mempercayai.
  2. Membedakan diri dari lingkungan
1 – 3 tahun
  1. Mempunyai kontrol terhadap beberapa bahasa
  2. Mulai menjadi otonom dalam pikiran dan tindakan
  3. Menyukai tubuhnya
  4. Menyukai dirinya
  5. Dapat mengambil gelas dari meja

6.      Dapat minum dari gelas yang dipegangnya sendiri

7.      Dapat menggunakan sendok untuk menyendok makanan

8.      Dapat menggunakan sedotan

9.      Dapat menggunakan garpu untuk makan

10.  Dapat makana dengan sendok tanpa tumpah

11.  Dapat melepas berbagai jenis pakaian dengan bantuan

12.  Dapat melepas celana atau rok dengan cara menarik ke bawah

3 – 6 tahun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Mengambil inisiatif
  2. Mengidentifikasi gender
  3. Meningkatkan kewaspadaan diri
  4. Keterampilan berbahsa meningkat
  5. Dapat menggunakan serbet

6.      Dapat menggunakan rok

7.      Dapat mengenakan pakaian yang ditarik ke atas

8.      Dapat mengenakan celana atu rok yang menggunakan karet pinggang

9.      Dapat memegang garpu dengan jari-jari

10.  Dapat menggunakan pisau untuk mengoles

11.  Dapat membuka retsleting

12.  Dapat mengikat taki sepatu

13.  Dapat mandi sendiri tanpa pengawasan

14.  Dapat menggunakan pisau untuk memotong

15.  Dapat menutup mulut dan hidung kalu bersin atau batuk

16.  Dapat berpakaian sendiri dengan lengkap

6 – 12 tahun
  1. Dapat mengatur diri sendiri
  2. Berinteraksi dengan teman sebaya
  3. Harga diri meningkat dengan penguasaaan keterampilan baru
  4. Menyadari kekuatan dan keterbatasan
12 – 20 tahun
  1. Menerima perubahan tubuh
  2. Menggali tujuan untuk masa depan
  3. Merasakan positif tentang diri
  4. Berinteraksi dengan orang yang mereka anggap menarik secara seksual
Pertengahan 20 tahunan – pertengahan 40 tahunan
  1. Mempunyai hubungan intim dengan keluarga dan teman dekat.
  2. Menpunyai perasaan stabil, positif tentang diri
Pertengahan 40 tahunan – pertengahan 60 tahunan
  1. Dapat menerima perubahan dalam penampilan dan ketahanan
  2. Mengkaji kembali tujuan hidup
  3. Menunjukan perhatian dengan penuaan
Akhir usia 60 tahun
  1. Merasa positif tentang kehidupan dan maknanya
  2. Tertarik dalam memberikan legalitas bagi generasi berikutnya

RENTANG KONSEP DIRI

Menurut Stuart dan Sudden, Rentang konsep diri mulai dari respon Adaptif sampai dengan respon Maladaptif yang terdiri dari :

Respon Adaptif                                                                                   Respon Maladaptif

                                             

Aktualisasi Diri         Konsep Diri Positif    Harga Diri Rendah      Kekacauan Identitas         Depersonalisasi

  1. a.      Aktualisasi Diri

Aktualisasi diri adalah pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan latar belakang pengalaman yang nyata yang sukses dan diterima.

  1. b.      Konsep Diri Positif

Konsep diri positif apabila individu memiliki pengalaman yang positif dalam beraktualisasi diri.

  1. c.       Harga Diri Rendah

Harga diri rendah adalah transisi antara respon konsep diri adaptif dengan respon konsep diri maladaptif.

  1. d.      Kekacauan Identitas

Kekacauan identitas adalah kegagalan individu mengintegrasikan aspek – aspek identitas masa kanak – kanak ke dalam kematangan aspek psikososial kepribadian pada masa dewasa yang harmonis.

  1. e.       Depersonalisasi

Depersonalisasi adalah perasaan yang tidak realistis dan asing terhadap diri sendiri yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat membedakan dirinya dengan orang lain.

 

KOMPONEN KONSEP DIRI

  1. a.      Gambaran Diri / Citra Tubuh ( Body Image )

Gambaran diri adalah sikap atau cara pandang seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaaan tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang secara berkesinambungan di modifikasi dengan pengalaman baru setiap individu. ( Stuart dan Sundeen, 1998 )

Gambaran diri ( body image ) berhubungan dengan kepribadian. Cara individu memandang dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologisnya. Pandangan yang realistis terhadap dirinya menerima dan mengukur bagian tubuhnya akan merasa lebih aman, sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri. ( Keliat, 1992 )

Pada anak usia sekolah mempunyai perbedaan citra tubuh dengan seorang bayi, salah satu perbedaan yang menyolok adalah kemampuan untuk berjalan,  dimana hal ini bergantung pada kematangan fisik. Pada masa remaja dengan adanya perubahan hormonal akan mempengaruhi citra tubuhnya misalnya menopause. Pada masa usia lanjut sebagai akibat dari proses penuaan terjadi perubahan penurunan penglihatan, pendengaran, dan mobilitas sehingga hal ini dapat mempengaruhi citra tubuh seorang lansia.

  1. b.      Ideal Diri ( Self Ideal )

Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan standart, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu. ( Stuart dan Sundeen, 1998 ).

Standart dapat berhubungan dengan tipe orang yang akan diinginkan atau sejumlah aspirasi, cita – cita, nilai – nilai yang ingin dicapai. Ideal diri akan mewujudkan cita – cita dan harapan, nilai – nilai yang ingin dicapai berdasarkan norma sosial ( keluarga, budaya) dan kepada siapa ingin dilakukan.

  1. c.       Harga Diri ( Self esteem )

Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisa seberapa baik perilaku seseorang sesuai dengan ideal diri. Harga diri yang tinggi adalah perasaan yang berakar dalam penerimaan diri sendiri tanpa syarat, walaupun melakukan kesalahan, kekalahan, dan kegagalan, tetap merasa sebagai seorang yang penting dan berharga. (Stuart dan Sundeen, 1998)

  1. d.      Peran ( Role Performance )

Peran adalah serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu di berbagai kelompok sosial. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak mempunyai pilihan. Peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. ( Stuart dan Sundeen, 1998 )

Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat. ( Keliat, 1992 )

Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri. Posisi di masyarakat dapat merupakan stressor terhadap peran karena struktur sosial yang menimbulkan kesukaran, tuntutan serta posisi yang tidak mungkin dilaksanakan ( keliat, 1992 ).

  1. e.       Identitas ( Identity )

Identitas adalah pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi, dan keunikan individu. Mempunyai konotasi otonomi dan meliputi persepsi seksualitas seseorang. Pembentukan identitas dimulai pada masa bayi dan seterusnya berlangsung sepanjang kehidupan tapi merupakan tugas utama pada masa remaja (Stuart dan Sundeen, 1998)

Pada masa anak- anak , untuk membentuk identitas dirinya, anak harus mampu membawa semua perilaku yang di pelajari kedalam keutuhan yang koheren , konsisten dan unik ( Erikson, 1963 ). Rasa identitas ini secara kontiniu timbul dan di pengaruhi oleh situasi sepanjang hidup.

Pada masa remaja , banyak terjadi perubahan fisik, emosional, kognitif dan social. Dimana dalam masa ini apabila tidak dapt memenuhi harapan dorongan diri pribadi dan social yang membantu mendefinisikan tentang diri maka remaja ini dapat mengalami kebingungan identitas. Seseorang dengan rasa identitas yang kuat akan merasa terintegrasi bukan terbelah  ( Ericson, 1963).

 

KEPRIBADIAN YANG SEHAT ( HEALTHY PERSONALITY )

Kepribadian yang sehat adalah yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Stuart dan Sundeen, 1998):

  1. Konsep diri yang positif
  2. Gambaran diri yang tepat dan positif
  3. Ideal diri yang realistis
  4. Harga diri yang tinggi
  5. Penampilan diri yang memuaskan
  6. Identitas yang jelas

Menurut Elizabeth (Syamsu Yusuf, 2003 ), kepribadian yang sehat adalah :

  1. Mampu menilai diri sendiri secara realisitik; mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
  2. Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
  3. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
  4. Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
  5. Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
  6. Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak)
  7. Berorientasi tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan dan keterampilan.
  8. Berorientasi keluar (ekstrovert); bersifat respek, empati terhadap orang lain, memiliki kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain, tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan dirinya.
  1. Penerimaan sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
  2. Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya.
  3. Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh faktor-faktor achievement (prestasi) acceptance (penerimaan), dan affection (kasih sayang)

Menurut Elizabeth (Syamsu Yusuf, 2003 ), kepribadian yang tidak sehat adalah :

  1. Mudah marah (tersinggung)
  2. Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan
  3. Sering merasa tertekan (stress atau depresi)
  4. Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang
  5. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum
  6. Kebiasaan berbohong
  7. Hiperaktif
  8. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
  9. Senang mengkritik/ mencemooh orang lain
  10. Sulit tidur
  11. Kurang memiliki rasa tanggung jawab
  12. Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan faktor yang bersifat organis)
  13. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama
  14. Pesimis dalam menghadapi kehidupan
  15. Kurang bergairah (bermuram durja) dalam menjalani kehidupan


KONSEP DIRI

 

PERILAKU KLIEN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI

1)      Perilaku yang adaptif :

  1. Syok Psikologis

Merupakan reaksi emosional terhadap dampak perubahan dan dapat terjadi pada saat pertama tindakan. Syok psikologis digunakan sebagai reaksi terhadap ansietas. Mekanisme koping yang digunakan seperti mengingkari, menolak dan proyeksi untuk mempertahankan diri.

  1. Menarik diri

Klien menjadi sadar akan kenyataan, ingin lari dari kenyataan, tetapi karena tidak mungkin maka klien lari atau menghindar secara emosional. Klien menjadi tergantung, pasif, tidak ada motivasi dan keinginan untuk berperan dalam perawatannya.

  1. c.       Penerimaan atau pengakuan secara bertahap

Setelah klien sadar akan kenyataan, maka respon kehilangan atau berduka muncul. Setelah fase ini klien mulai melakukan reintegrasi dengan gambaran diri yang baru.

 

2)      Perilaku yang maladaptif

a)      Menolak untuk melihat dan menyentuh bagian yang berubah.

b)     Tidak dapat menerima perubahan struktur dan fungsi tubuh.

c)      Mengurangi kontak sosial sehingga terjadi menarik diri.

d)     Perasaan atau pandangan negatif terhadap tubuh.

e)      Preokupasi dengan bagian tubuh atau fungsi tubuh yang hilang.

f)       Mengungkapkan keputusasaan.

g)      Mengungkapkan ketakutan ditolak.

h)     Depersonalisasi.

i)        Menolak penjelasan tentang perubahan tubuh.

 

Perilaku yang berhubungan dengan gangguan peran

  1. 1.      Mengungkapkan ketidakpuasan perannya atau kemampuan menampilkan peran.
  2. 2.      Mengingkari atau menghindari peran.
  3. 3.      Kegagalan transisi peran.
  4. 4.      Ketegangan peran.
  5. 5.      Kemunduran pola tanggung jawab yang biasa dalam peran.
  6. 6.      Proses berkabung yang tidak berfungsi.
  7. 7.      Kejenuhan pekerjaan.

 

Perilaku yang berhubungan dengan Harga Diri yang Rendah

  1. 1.      Mengeritik diri sendiri dan / atau orang lain
  2. 2.      Penurunan produktivitas
  3. 3.      Destruktif yang diarahkan pada orang lain
  4. 4.      Gangguan dalam berhubungan
  5. 5.      Rasa diri penting yang berlebihan
  6. 6.      Perasaan tidak mampu
  7. 7.      Rasa bersalah
  8. 8.      Mudah tersinggung atau marah berlebihan
  9. 9.      Perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri
  10. 10.  Ketegangan peran yang dirasakan
  11. 11.  Pandangan hidup yang pesimis
  12. 12.  Keluhan fisik
  13. 13.  Pandangan hidup yang bertentangan
  14. 14.  Penolakan terhadap kemampuan personal
  15. 15.  Destruktif terhadap diri sendiri
  16. 16.  Pengurangan diri
  17. 17.  Menarik diri secara sosial
  18. 18.  Penyalahgunaan zat
  19. 19.  Menarik diri dari realitas
  20. 20.  Khawatir

 

Perilaku yang berhubungan dengan Kerancuan Identitas

  1. 1.      Tidak ada kode moral
  2. 2.      Sifat kepribadian yang bertentangan
  3. 3.      Hubungan interpersonal eksploitatif
  4. 4.      Perasaan hampa
  5. 5.      Perasaan mengambang tentang diri sendiri
  6. 6.      Kerancuan gender
  7. 7.      Tingkat ansietas yang tinggi
  8. 8.      Ketidakmampuan untuk empati terhadap orang lain
  9. 9.      Kehilangan keautentikan
  10. 10.  Masalah intimasi

 

Perilaku yang berhubungan dengan Depersonalisasi

AFEKTIF

  1. 1.      Mengalami kehilangan identitas
  2. 2.      Perasaan terpisah dari diri sendiri
  3. 3.      Perasaan tidak aman, rendah, takut, malu
  4. 4.      Perasaan  tak realistis
  5. 5.      Rasa terisolasi yang kuat
  6. 6.      Kurang rasa kesinambungan dalam diri
  7. 7.      Ketidakmampuan untuk mencari kesenangan atau perasaan untuk mencapai sesuatu.

PERSEPTUAL

  1. 1.      Halusinasi pendengaran dan penglihatan
  2. 2.      Kebingungan tentang seksualitas diri
  3. 3.      Kesulitan membedakan diri sendiri dari orang lain
  4. Gangguan citra tubuh
  5. Mengalami dunia seperti dalam mimpi.

KOGNITIF

  1. 1.      Bingung
  2. 2.      Disorientasi waktu
  3. 3.      Gangguan berfikir
  4. 4.      Gangguan daya ingat
  5. 5.      Gangguan penilaian
  6. 6.      Adanya kepribadian yang terpisah dalam diri orang yang sama

PERILAKU

  1. 1.      Afek yang tumpul
  2. 2.      Keadaan emosi yang pasif dan tidak berespons
  3. 3.      Komunikasi yang tidak serasi atau idiosinkratik
  4. 4.      Kurang spontanitas dan animasi
  5. 5.      Kehilangan kendali terhadap impuls
  6. 6.      Kehilangan kemampuan untuk memulai dan membuat keputusan
  7. 7.      Menarik diri secara social

 

FAKTOR PREDISPOSISI, PRESIPITASI, PENILAIAN TERHADAP STRESSOR, SUMBER KOPING DAN MEKANISME KOPING KLIEN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI

  1. a.      FAKTOR PREDISPOSISI
    1. 1.      Faktor – faktor yang mempengaruhi gambaran diri, adalah munculnya stressor yang dapat mengganggu integrasi gambaran diri. Stressor dapat berupa :
      1. a.      Operasi

Mastektomi, amputasi, luka operasi yang semuanya mengubah gambaran diri. Demikian pula tindakan koreksi seperti operasi plastik atau protesa.

  1. b.      Kegagalan fungsi tubuh

Hemiplegi, buta, tuli dapat mengakibatkan depersonalisasi yaitu tidak mengakui atau asing terhadap bagian tubuh, sering berkaitan dengan fungsi syaraf.

  1. c.       Waham yang berkaitan dengan bentuk dan fungsi tubuh.

Sering terjadi pada klien gangguan jiwa. Klien mempersiapkan penampilan dan pergerakan tubuh sangat berbeda dengan kenyataan.

  1. d.      Tergantung pada mesin.

Klien intensife care yang memandang immobilisasi sebagai tantangan, akibatnya sukar mendapatkan informasi umpan balik. Penggunaan alat – alat intensife care dianggap sebagai gangguan.

 

  1. e.       Perubahan tubuh

Berkaitan dengan tumbuh kembang, dimana seseorang akan merasakan perubahan pada dirinya seiring dengan bertambahnya usia. Tidak jarang seseorang menanggapinya dengan respon negatif dan positif. Ketidakpuasan juga dirasakan seseorang jika didapati perubahan tubuh yang tidak ideal.

  1. f.       Umpan balik interpersonal yang negatif

Adanya tanggapan yang tidak baik berupa celaan, makian sehingga membuat seseorang menarik diri.

  1. g.      Standart sosial budaya

Berkaitan dengan kultur sosial budaya yang berbeda pada setiap orang dan keterbatasannya serta keterbelakangan dari budaya tersebut menyebabkan pengaruh pada gambaran diri individu, seperti adanya perasaan minder.

 

  1. Faktor – faktor yang mempengaruhi ideal diri ( keliat, 1998 ) :
    1. Kecenderungan individu menetapkan ideal pada batas kemampuannya.
    2. Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapk ideal diri.
    3. Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil, kebutuhan yang realistis, keinginan untuk mengklaim diri dari kegagalan, perasaan cemas dan rendah diri.
    4. Kebutuhan yang realistis.
    5. Keinginan untuk menghindari kegagalan.
    6. Perasaan cemas dan rendah diri.
  1. 3.      Faktor – faktor yang mempengaruhi harga diri.

Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain, dan ideal diri yang tidak realistik.

  1. a.      Perkembangan individu

Faktor predisposisi dapat dimulai sejak masih bayi, seperti penolakan orang tua menyebabkan anak merasa tidak dicintai dan mengakibatkan anak gagal mencintai dirinya dan akan gagal untuk mencintai orang lain.

Pada saat anak berkembang lebih besar, anak mengalami kurangnya pengakuan dan pujian dari orang tua dan orang yang dekat atau penting baginya. Ia merasa tidak adekuat karena selalu tidak dipercaya untuk mandiri, memutuskan sendiri akan tanggung jawab terhadap perilakunya. Sikap orang tua yang terlalu mengatur dan mengontrol, membuat anak merasa tidak berguna.

  1. b.      Ideal diri tidak realistis

Individu yang selalu dituntut untuk berhasil akan merasa tidak punya hak untuk gagal dan berbuat kesalahan. Ia membuat standart yang tidak dapat dicapai, seperti cita – cita yang terlalu tinggi dan tidak realistis. Yang pada kenyataan tidak dapat dicapai membuat individu menghukum diri sendiri dan akhirnya percaya diri akan hilang.

  1. c.       Gangguan fisik dan mental

Gangguan ini dapat membuat individu dan keluarga merasa rendah diri.

  1. d.      Sistem keluarga yang tidak berfungsi

Orang tua yang mempunyai harga diri yang rendah tidak mampu membangun harga diri anak dengan baik. Orang tua memberi umpan balik yang negatif dan berulang – ulang akan merusak harga diri anak. Harga diri anak akan terganggu jika kemampuan menyelesaikan masalah tidak adekuat. Akhirnya anak memandang negatif terhadap pengalaman dan kemampuan di lingkungannya.

  1. e.       Pengalaman traumatik yang berulang, misalnya akibat aniaya fisik, emosi dan seksual.

Penganiayaan yang dialami dapat berupa penganiayaan fisik, emosi, peperangan, bencana alam, kecelakaan atau perampokan. Individu merasa tidak mampu mengontrol lingkungan. Respon atau strategi untuk menghadapi trauma umumnya mengingkari trauma, mengubah arti trauma, respon yang biasa efektif terganggu. Akibatnya koping yang biasa berkembang adalah depresi dan denial pada trauma.

  1. 4.      Faktor – faktor yang mempengaruhi penampilan peran.

Faktor yang mempengaruhi penampilan peran adalah stereotipik peran seks, tuntutan peran kerja, dan harapan peran kultural.

  1. a.      Konflik peran interpersonal.
  2. b.      Contoh peran yang tidak adekuat.
  3. c.       Kehilangan hubungan yang penting.
  4. d.      Perubahan peran seksual.
  5. e.       Keragu – raguan peran.
  6. f.       Perubahan kemampuan fisik untuk menampilkan peran sehubungan dengan proses menua.
  7. g.      Kurangnya kejelasan peran atau pengertian tentang peran.
  8. h.      Ketergantungan obat.
  9. i.        Kurangnya keterampilan sosial.
  10. j.        Perbedaan budaya.
  11. k.      Harga diri rendah.
  12. l.        Konflik antar peran yang sekaligus di perankan.
  13. 5.      Faktor – faktor yang mempengaruhi identitas diri.

Faktor yang mempengaruhi identitas personal meliputi ketidak percayaan orang tua, tekanan dari kelompok sebaya, dan perubahan dalam struktur sosial.

 

 

 

 

  1. b.      FAKTOR PRESIPITASI

1)      Trauma

Penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan.

2)      Ketegangan peran

Adalah stress yang berhubungan dengan frustasi yang dialami individu dalam peran atau posisi yang diharapkan.

  1. 1.      Transisi peran perkembangan

Perubahan normative yang berkaitan dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan norma – norma budaya, nilai – nilai dan tekanan untuk penyesuaian diri. Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas. Setiap perkembangan harus dilalui individu dengan menjelaskan tugas perkembangan yang berbeda – beda. Hal ini merupakan stressor bagi konsep diri.

  1. 2.      Transisi peran situasi

Transisi situasi terjadi sepanjang daur kehidupan, bertambah atau berkurangnya orang yang penting dalam kehidupan individu melalui kelahiran atau kematian orang yang berarti. Perubahan status menyebabkan perubahan peran yang dapat menimbulkan ketegangan peran yaitu konflik peran, peran tidak jelas atau peran berlebihan.

  1. 3.      Transisi peran sehat – sakit

Pergeseran dari keadaaan sehat ke keadaan sakit. Stressor pada tubuh dapat menyebabkan gangguan gambaran diri dan berakibat perubahan konsep diri. Perubahan tubuh dapat mempengaruhi semua komponen konsep diri. Transisi ini mungkin dicetuskan oleh :

  1. Kehilangan bagian tubuh
  2. Perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi tubuh
  3. Perubahan fisik berhubungan dengan tumbuh kembang normal
  4. Prosedur medis dan keperawatan.

 

  1. c.       PENILAIAN TERHADAP STRESSOR

Seorang dengan harga diri rendah memiliki penilaian sendiri terhadap setressor atau masalah atau penurunan kepercayaan diri yang dimiliki. Kebanyakan dari mereka memiliki kemampuan berfikir daya ingat serta konsentrsi menurun. Mereka akan menjadi pelupa dan sering mengeluh sakit kepala. Wajah seseorang yang stress tampak tegang dahi berkerut, mimik nampak serius, bicara berat, sukar untuk senyum atau tertawa.

 

  1. d.      SUMBER KOPING
    1. 1.      Aktivitas olah raga dan aktivitas lain di luar rumah
    2. 2.      Hobi dan kerajinan tangan
    3. 3.      Seni yang ekspresif
    4. 4.      Kesehatan dan perawatan diri
    5. 5.      Pekerjaan, vokasi atau posisi
    6. 6.      Bakat tertentu
    7. 7.      Kecerdasan
    8. 8.      Imaginasi dan kreativitas
    9. 9.      Hubungan interpersonal

 

  1. e.       MEKANISME KOPING
    1. 1.      Jangka Pendek
  • Kegiatan yang memberi dukungan sementara ( kompetisi olahraga, kontes popularitas )
  • Kegiatan yang dilakukan untuk lari sementara dari krisis identitas ( musik keras, pemakaian obat-obatan, kerja keras, nonton TV terus-menerus )
  • Kegiatan mengganti identitas sementara ( ikut kelompok sosial, keagamaan, politik )
  • Kegiatan yang mencoba menghilangkan anti identitas sementara ( penyalahgunaan obat )

 

  1. 2.      Jangka Panjang
    1. a.      Menutup identitas  dari orang – orang yang berarti, tanpa mengindahkan hasrat, aspirasi atau potensi diri sendiri.

Terlalu cepat mengadopsi identitas yang disenangi dari orang lain.

  1. b.      Identitas negatif

Yaitu asumsi yang bertentangan atau tidak wajar dengan nilai dan harapan masyarakat.

 

  1. 3.      Pertahanan Ego

Termasuk penggunaan fantasi, disosiasi, isolasi, proyeksi, pergeseran (displacement), peretakan (splitting), berbalik marah terhadap diri sendiri, dan amuk.

  1. a.      Fantasi adalah kemampuan menggunakan tanggapan – tanggapan yang sudah ada (dimiliki) untuk menciptakan tanggapan baru.
  2. b.      Disosiasi adalah respon yang tidak sesuai dengan stimulus.
  3. c.       Isolasi adalah menghindarkan diri dari interaksi dengan lingkungan luar.
  4. d.      Proyeksi adalah kelemahan dan kekurangan dalam diri sendiri dilontarkan pada orang lain.
  5. e.       Displacement adalah mengeluarkan perasaan – perasaan yang tertekan pada orang yang kurang mengancam dan kurang menimbulkan reaksi emosi.

 

  1. 2.      DIAGNOSA KEPERAWATAN  DAN DIAGNOSA MEDIK YANG TERKAIT DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI
    1. a.      NANDA nursing diagnoses : definition and Clasification, Philadelphia, 1994

1)      Penyesuaian, kerusakan

2)      Ansietas

3)      Gangguan citra tubuh

4)      Komunikasi, kerusakan verbal

5)      Koping, individu tidak efektik

6)      Gangguan penyaluran energi

7)      Berduka, disfungsi

8)      Keputusasaan

9)      Gangguan identitas personal

10)  Ketidakberdayaan

11)  Penampilan peran, perubahan

12)  Defisit perawatn diri

13)  Gangguan harga diri

14)  Perubahan persepsi sensori

15)  Pola seksualitas, perubahan

16)  Interaksi sosial, kerusakan

17)  Isolasi sosial

18)  Distress spiritual

19)  Kesejahteraan spiritual, potensial untuk ditingkatkan

20)  Proses pikir, perubahan

21)  Amuk, risiko terhadap

22)  Gangguan harga diri rendah

TAMBAHKAN MASING-MASING DAPUS, BERI CONTOH, LIHAT LAGI FAKTOR PREDISPOSISI & PRESIPITASI

  1. b.      Diagnosa Medis Yang Terkait Dengan Gangguan Konsep Diri

Menurut American Psychiatric Association : Diagnostic and statistical manual of mental disorder, ed 4 , Washington, Dc, 1994.

Diagnosa medis DSM-!V yang berhubungan dengan respon konsep diri

Diagnosa DSM-IV

Gambaran penting

Masalah identitas

Amnesia Disosiatif

Fuga Disosiatif

Identitas Disosiatif ( kelainan kepribadian ganda )

Kelainan Depersonalisasi

Ketidakpastian tentang banyak masalah yang terkait dengan identitas seperti tujuan jangka panjang, pilihan karir, pola persahabatan, orientasi dan perilaku seksual, nilai moral dan loyalitas kelompok.

Gangguan yang utama yaitu adanya satu atau lebih episode ketidakmampuan untuk mengingat kembali informasi personal yang penting, biasanya bersifat traumatis atau menimbulkan stress, yang terlalu ekstensif untuk dijelaskan oleh seseorang yang asalnya pelupa.

Gangguan utama terjadi secara tiba – tiba, melakukan perjalanan jauh dari rumah atau ke tempat biasa bekerja tanppa direncanakan, dengan ketidakmampuan untuk mengingat yang lalu. Bingung tentang identitas personal atau mengasumsi identitas baru.

Adanya dua atau lebih identitas atau keadaan kepribadian ( tiap kepribadian mempunyai pola persepsi, berhubungan, dan berpikir tentang diri sendiri dan lingkungan yang berbeda ). Sedikitnya dua identitas atau keadaan kepribadian mengendalikan perilaku seseorang. Ketidakmampuan untuk mengingat informasi personal yang terlalu ekstensif untuk dijelaskan oleh seorang yang asalnya biasa.

Pengalaman yang timbul kembali atau menetap berupa perasaan terpisah dari proses kejiwaan atau tubuh seseorang, dan sepertinya berada dalam posisi pengamat ( misal : perasaaan sedang bermimpi ). Selama mengalami depersonalisasi, uji realistis tetap utuh. Depersonalisasi menyebabkan distress klinis atau kerusakan fungsi yang bermakna.


KONSEP DIRI

 

RENCANA KEPERAWATAN, IMPLEMENTASI, DAN EVALUASI KLIEN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI

 

  1. a.      Rencana Keperawatan

1)      Tujuan Umum

Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap.

2)      Tujuan khusus

  1. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki.
  2. Klien dapat menilai kemampuan diri yang dapat digunakan.
  3. Klien dapat membuat rencana sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
  4. Klien dapat melaksanakan kegiatan sesuai jadwal secara bertahap.
  5. Klien dapat memanfaatkan system pendukung yang ada.

3)      Kriterian Evaluasi

  1. Klien dapat menyebutkan minimal dua aspek positif fisiknya.
  2. Klien dapat menyebutkan minimal dua aspek positif intelektualnya.
  3. Klien dapat menyebutkan minimal dua kegiatan yang dapat dilakukan di rumah dan di rumah sakit.
  4. Klien dapat menjelaskan masalah yang dihadapi.
  5. Klien dapat menyebutkan koping yang digunakan.
  6. Klien dapat menjelaskan keefektifan koping yang digunakan.
  7. Klien dapat memutuskan rencana kegiatan yang akan dilakukan secara bertahap.
  8. Klien dapat menyusun jadwal kegiatan selama satu minggu.
  9. Klien dapat menunjukan kegiatan yang telah dicontohkan.
  10. Klien dapat mendemonstrasikan kembali kegiatan yang telah dicontohkan.
  11. Klien dapat menyebutkan manfaat kegiatan yang telah dilakukan.
  12. Klien dapat memanfaatkan keluarga.
  13. Klien dapat memanfaatkan sarana/fasilitas kesehatan.
  14. Klien dapat memanfaatkan sarana yang ada di lingkungan tempat tinggalnya.

Fokus tindakan adalah untuk mendorong klien memahami dirinya secara utuh sehingga ia mampu menggali kemampuan yang dimiliki dan menggunakannya untuk mencapai perilaku yang konstruktif. Prinsip asuhan keperawatan yang diberikan adalah pemecahan masalah yang terlihat dari peningkatan kemampuan klien yang terdiri dari 5 tingkat:

(1)   Memperluas kesadaran diri (expanded self awareness)

Dalam mengembangkan kesadaran diri, klien perlu melihat ke dalam serta melihat secara realistic terhadap lingkungan. Cara mengembangkan kesadaran diri dengan :

(a)    Membangun keterbukaan dan hubungan saling percaya, dengan cara :

  1. Tawarkan penerimaan tak bersyarat/tidak kaku.
  2. Dengarkan klien.
  3. Dorong klien untuk mendiskusikan pikiran dan perasaan.
  4. Berespon pada klien dengan tidak menghakimi.
  5. Tunjukkan pada klien bahwa klien adalah individu yang berharga yang bertanggung jawab terhadap dirinya dan dapat membantu diri sendiri.

(b)   Bekerja pada klien pada tingkat kemampuan yang dimilikinya, dengan cara :

  1. Identifikasi kemampuan yang dimiliki klien.
  2. Muali dengan penegasan identitasnya.
  3. Memberikan tindakan yang mendukung untuk menurunkan tingkat kecemasannya.
  4. Dekati klien dengan cara tanpa diminta.
  5. Terima dan usahakan untuk klarifikasi komunikasi verbal dan nonverbal.
  6. Cegah klien untuk mengisolasi diri.
  7. Ciptakan kegiatan rutin yang sederhana pada klien.
  8. Buat batasan pada perilaku yang tidak sesuai.
  9. Orientasikan klien ke realita.
  10. Dorong untuk melakukan perilaku yang tepat dan beri pujian dan pengakuan.
  11. Bantu dalam melakukan kebersihan perseorangan dan penampilan diri.
  12. Dorong klien untuk merawat diri sendiri.

(c)    Memaksimalkan peran serta klien dalam hubungan terapeutik dengan cara :

  1. Tingkatkan secara bertahap partisipasi klien dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan asuhan keperawatannya.
  2. Tunjukkan bahwa klien adalah orang yang bertangggung jawab.

(2)   Menyelidiki/eksplorasi diri (self exploration)

Tindakan ini dapat dilakukan dengan cara :

(a)    Membantu klien untuk menerima pikiran dan perasaannya:

  1. Dorong klien untuk mengeksplorasikan emosi, keyakinan, perilaku dan pikiran secara verbal dan non verbal.
  2. Gunakan keterampilan komunikasi terapeutik dan respon empati.
  3. Observasi dan catat pikiran yang logis dan tidak logis serta respon emosionalnya.

(b)   Membantu klien mengklarifikasi konsep dirinya dan hubungannya dengan orang lain melalui keterbukaan:

  1. Dapatkan persepsinya tentang kekuatan dan kelemahannya.
  2. Bantu klien untuk menggambarkan ideal dirinya.
  3. Identifikasi kritik tentang dirinya.
  4. Bantu klien untuk menggambarkan hubungan dengan orang lain.

(c)    Menyadari dan memiliki kendali terhadap perasaan anda (perawat):

  1. Terbuka pada perasaan sendiri.
  2. Gunakan diri secara terapeutik.
    1. Berbagi perasaan dengan klien.
    2. Verbalisasai bagaimana perasaan orang lain.
    3. Bercermin pada persepsi dan perasaaan klien

(d)   Berespon empati bukan simpati dan tekankan bahwa kekuatan untuk berubah ada pada klien:

  1. Gunakan respon empati, evaluasi diri tentang simpati.
  2. Menguatkan klien bahwa ia mempunyai kekuatan untuk memecahkan masalahnya.
  3. Beritahukan pada klien bahwa ia bertanggung jawab terhadap perilakunya termasuk respon koping adaptif dan maladaptive.
  4. Diskusikan cakupan pilihan, area kekuatan dan sumber – sumber koping yang tersedia untuk klien.
  5. Gunakan system pendukung dari keluarga dan kelompok untuk memfasilitasi penyelidikan diri klien.
  6. Bantu klien untuk mengenali sifat dari konflik dan cara maladaptive yang dilakukan klien untuk mengatasinya.

(3)   Mengevaluasi diri (self evaluation)

Tindakan ini dapat dilakukan dengan cara :

(a)    Bantu klien untuk menjabarkan masalahnya secara jelas:

  1. Identifikasi stressor yang relevan dengan klien dan bagaimana penilaian klien.
  2. Klarifikasi pada klien bahwa keyakinannya mempengaruhi perasaannya dan perilakunya.
  3. Bersama – sama identifikasi keyakinan yang salah, ilusi, persepsi yang salah dan tujuan yang tidak realistis.
  4. Bersama – sama identifikasi area kekuatan klien dan tempatkan kesuksesan dan kegagalan dalam perepsi yang sesuai.
  5. Gali sumber koping yang dimiliki klien.

(b)   Gali respon koping adaptif dan maladaptive klien terhadap masalah yang diharapkan:

  1. Gambarkan pada klien bahwa koping bebas dipilih dan memiliki konsekuensi positif dan negative.
  2. Bedakan respon adaptif dan maladaptive.
  3. Bersama – sama mengidentifikasi kerugian dari respon maladaptive klien.
  4. Diskusikan akibat respon klien yang maladaptive.
  5. Gunakan berbagai teknik komunikasi terapeutik yang bervariasi:
    1. Fasilitasi, adalah membantu klien dengan cara mendengarkan aktif, memberikan respons, menerima dan mau memahami sehingga mendorong klien untuk berbicara secara terbuka tentang dirinya.
    2. Konfrontasi.
    3. Klarifikasi.
    4. Psikodrama, adalah metode drama khusus yang menggali hubungan – hubungan antar individu, konflik – konflik dan masalah – masalah emosional yang digunakan untuk memperbaiki kepribadian seseorang.
    5. Analisis proses interaksi, adalah kegiatan menganalisis diri sendiri dan orang lain meliputi verbal, non verbal, serta perasaan selama proses interaksi interpersonal berlangsung.

(4)   Perencanaan yang realistic (realistic planning)

(a)       Bantu klien untuk mengidentifikasi alternative pemecahan:

  1. Bantu klien memahami bahwa hanya dia yang mampu mengubah dirinya bukan orang lain.
  2. Jika klien mempunyai persepsi yang tidak konsisten, bantu dia melihat bahwa ia dapat berubah, sebagai berikut:
    1. Keyakinan dan idealnya dapat membawa dia pada kenyataan.
    2. Lingkungan untuk membuat konsisten dengan keyakinannya.
    3. Jika konsep diri tidak konsisten dengan perilakunya, ia dapat berubah:
      1. Perilakunya disesuaikan dengan konsep dirinya.
      2. Keyakinan yang mendasari konsep dirinya disesuaikan pada perilaku.
      3. Ideal dirinya.
      4. Bersama – sama mengulas bagaimana sumber koping dapat lebih baik digunakan klien.

(b)      Bantu klien mengembangkan tujuan yang realistis:

  1. Dorong klien untuk merumuskan tujuannya sendiri (bukan tujuan perawat).
  2. Bersama – sama mendiskusikan konsekuensi emosi, praktiknya dan berdasarkan realita dari setiap tujuan.
  3. Bantu klien untuk menetapkan perubahan konkret yang diharapkan.
  4. Dorong klien untuk memulai pengalaman baru untuk berkembang secara potensial.
  5. Gunakan bermain peran, model peran dan visualisasi bila perlu.

(5)   Pengambilan keputusan untuk melakukan tindakan (commitment to action)

Bantu klien melakukan tindakanyang diperlukan untuk mengubah respon koping maladaptive dan mempertahankan respon koping yang adaptif:

  1. Fasilitasi kesempatan untuk sukses.
  2. Kuatkan dan beri pengakuan pada kekuatan, keterampilan dan aspek yang sehat dari kepribadian klien.
  3. Batu klien untuk mendapatkan bantuan yang diperlukan.
  4. Pakai kelompok yang dapat member harga diri pada klien.
  5. Tingkatkan pembedaan diri pada klien di dalam keluarga, klien merasakan sebagai individu yang unik.
  6. Beri waktu yang cukup untuk berubah.
  7. Sediakan dukungan yang cukup dan reinforcement positif pada klien untuk membantu mempertahankan kemampuannya.

 

Rencana penyuluha pasien

Isi

Aktivitas instruksional Evaluasi
Definisikan konsep tentang perbedaan diri pada dalam keluarga asal individu

Uraikan karakteristik pennyatuan emosi, jalan pintas emosi dan triangulasi

Bahas peran pembentukan dan pembawa gejala dalam keluarga

Uraikan genogram keluarga dan perlihatkan bagaimana cara membuatnya

Analisa kebutuhan sesuai obyektivitas dan tanggung jawab untuk mengubah perilaku sendiri dan bukan perilaku orang lain

Bahas perbedaan antara tingkat perbedaan diri yang tinggi dan rendah. Minta pasien untuk mengidentifikasikasi tingkat fungsi antara anggota keluarga

Analisa jenis dan pola hubungan keluarga.

Gnakan kertas dan pencil untuk menggambarkan diagram pola keluarga

Buat pasien agar peka terhadap dinamika dan manifestasi stress.

Dukung komunikasi keluarga

Gunakan papan tulis untuk menggambar genogram keluarga

Tugaskan genogram keluarga

Bermain peran interaksi dengan berbagai anggota keluarga

Dukung uji coba cara berinteraksi yang baru dengan anggota keluarga

Pasien mengidentifikasi tingkat fungsi keluarga asalnya.

Pasien menguraikan pola interaksi dalam keluarga sendiri .

Pasien mengidentifikasi peran dan perilakunya.

Pasien mengenali kontribusi keluarga terhadap stress yang di alami oleh anggota keluarga.

Pasien menghubungi anggota keluarga

Pasien memperoleh informasi yang sesungguhnya tentang keluarga

Pasien menyusun genogram keluarga

Pasien menunjukkan tingkat perbedaan yang tinggi dari keluarga asalnya

Tindakan terhadap perubahan konsep diri

Intervensi keperawatan membantu pasien memberi penilaian kognitif dirinya terhadap situasi yang berhubungan dengan perasaan untuk membantu pasien meningkatkan  penghayatan diri dan kemudian melakukan tindakan untuk mengubah perilaku. Pendekatan penyelesaian masalah ini memerlukan tingkat intervensi yang progresif, sebagai berikut :

  1. Meluaskan kesadaran diri
  2. Eksplorasi diri
  3. Evaluasi diri
  4. Perencanaan yang realistic
  5. Komitmen terhadap tindakan

Intervensi Keperawatan

Prinsip

Rasional Intervensi keperawatan
Tingkat 1 :

Bina hubungan terbuka, saling percaya

Bekerja dengan pasien bagaimanapun kekuatan egonya

Maksimalkan peran serta pasien dalam hubungan terapeutik.

Tujuan : meluaskan kesadaran diri pasien

Kurangangi ancaman yang terlihat dalam sikap perawat terhadap pasien; bantu pasien untuk meluaskan dan menerima semua aspek kepribadian.

Kekuatan ego tingkat tertentu, seperti kpasitas untuk uji realitas, control diri, atau tingkat integritas ego, di butuhkan sebagai dasar asuhan keperawatan kenudian.

Timbal balik di perlukan bagi pasien untuk menerima tanggung jawab terhadap perilaku dan respon kopingnya yang maladaptirf

Tawarkan penerimaan tanpa syarat.

Dengarkan pasien.

Dukung pembahasan tentang pikiran dan perasaan pasien.

Berespon tanpa mendakwa.

Sampaikan bahwa pasien adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri.

Identifikasi kekuatan ego pasien.

Pedoman bagi pasien dengan sumber ego yang terbatas:

  • Mulai dengan meyakinkan identitas pasien
  • Berikan dukungan untuk mengurangi tingkat ansietas panic
  • Dekati pasien dengan cara tidak menuntut
  • Terima dan upayakan klarifikasi komunikasi verbal dan non verbal
  • Cegah pasien dari pengisolasian diri
  • Bina rutinitas pasien yang sederhana bagi pasien
  • Tetapkan batasan untuk perilaku yang tidak tepat
  • Orientasi pasien terhadap realitas
  • Kuatkan perilaku yang sesuai
  • Tingkatkan aktivitas dan tugas yang dapat memberikan pengalaman positif secara bertahap
  • Bantu dalam kebersihan dan kecantikan diri
  • Dukung pasien dalam asuhan mandiri

Tingkat peran serta pasien secara bertahap dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan asuhan dirinya.

Sampaikan bahwa pasien adalah individu yang bertanggung jawab.

Tingkat 2:

Bantu pasien untuk menerima perasaan –perasaan dan pikiran-pikirannya.

Bantu pasien mengklarifikasi konsep diri dan hubungan dengan orang lain melalui pengungkapan diri.

Waspada dan kendalikan perasaan anda sendiri

Berespon empatik, bukan simpatik, tekankan bahwa kekuatan untuk berubah berada pada pasien.

Tujuan : mendukung eksplorasi diri pasien

Dengan menunjukkan minat dan penerimaan terhadap perasaan dan pikiran pasien, perawat membantu pasien untuk melakukan hal yang sama.

Pengungkapan diri dan pemahaman terhadap persepsi diri di perlukan untuk membawa perubahan yang akan datang, pengungkapan diri dapat mengurangi ansietas.

Kesadaran diri memungkinkan perawat member model perilaku autentik dan membatasi pengaruh negative kontertransferens dalam hubungan.

Simpati dapat menimbulkan rasa kasihan pasien, sebaliknya, perawat harus mengkomunikasikan bahwa situasi kehidupan pasien memerlukan kendali diri.

Dukung ekspresi emosi, keyakinan, perilaku, dan pikiran pasien-secara verbal, nonverbal, simbolik, atau langsung.

Gunakan ketrampilan komunikasi terapeutik dan respon empati.

Catat penggunaan pemikiran logic dan tidak logic pasien serta laporkan dan amati respon pasiennya.

Bangkitkan persepsi pasien tentang kelebihan dan kekurangan diri yang di miliki.

Bantu pasien untuk menguraikan ideal diri.

Identifikasi kritik diri pasien.

Bantu pasien untuk menguraikan keyakinan tentang bagaimana ia berhubungan dengan orang lain dan dengan peristiwa.

Terbuka terhadap perasaan anda sendiri.

Terima perasaan positif dan negative.

Gunakan diri secara terapeutik dengan :

  1. Berbagi perasaan anda dengan pasien
  2. Mengungkapkan tentang apa yang mungkin orang lain rasakan
  3. Mencerminkan persepsi anda terhadap perasaan pasien.

Gunakan respon empatik dan pantau diri anda terhadap perasaan simpati atau kasihan.

Tegaskan bahwa pasien bukan tidak berdaya atau tak kuasa dalam menghadapi masalah.

Tunjukkan pada pasien baik secara verbal maupun melalui perilaku bahwa pasien bertanggungjawab terhadap perilakunya sendiri, termasuk memilih respons koping yang adaptif dan maladaptive.

Gunkan system pendukung dari keluarga dan kelompok untuk memvasilitasi eksplorasi diri pasien.

Bantu pasien dalam mengenali, sifat konflik dan respon koping maladaptif.

Tingkat 3 :

Bantu pasien untuk menjabarkan masalah secara jelas.

Gali respon adaptif dan maladaptive pasien terhadap masalah.

Tujuan: membantu evaluasi diri pasien

Hanya setelah masaah di jabarkan dengan benar, pilihan alternative dapat di usulkan.

Penggalian koping tersebut penting untuk memeriksa pilihan koping pasien dan mengevaluasi akibat positif dan negative.

Identifikasi stressor yang relevan dan penilaian pasien terhadap stressor.

Klarifikasi bahwa keyakinan pasien mempengaruhi perasaan dan perilakunya.

Identifikasi bersama yang salah, persepsi yang tidak benar, ilusi dan tujuan yang tidak realistic.

Identifikasi bersama area kekuatan.

Tempatkan konsep keberhasilan dan kegagalan dalam pandangan yang sesuai.

Uraikan kepada pasien bahwa semua respons koping dapat di pilih dan mempunyai akibat baik positif maupun negative.

Bandingkan respons adaptif dan maladaptive.

Identifikasi bersama kerugian respons koping yang maladaptive.

Identifikasi bersama  kerigian atau, “hasil” respons koping adaptif.

Bahas bagaimana hasil tersebut mendukung penggunaan respons koping adaptif selanjutnya.

Gunakan berbagai ketrampilan terapeutik, seperti :

  • Komunikasi fasilitatif
  • Konfrontasi suportif
  • Klarifikasi peran
  • Reaksi transferens dan kontertransferens dalam hubungan perawat-pasien.
  • psikodrama
Tingkat 4:

Bantu pasien mengdentifikasi solusi alternatif.

Bantu pasien mengkonsepsualisai tujuan yang realistic.

Tujuan : membantu pasien dalam merumuskan rencana tindakan yang realistic.

Hanya setelah semua alternative yang memungkinkan di evaluasi baru dapat terjadi suatu perubahan.

Penetapan tujuan harus mencakup jabaran yang jelas tentang perubahan yang di harapkan.

Bantu pasien memehami bahwa hanya dia yang dapat mengubah dirinya, bukan orang lain.

Jika pasien berpegang pada persepsi yang tidak konsisten, bantu pasien untuk melihat bahwa dia dapat mengubah:

  • keyakinan atu ideal mendekati suatu kenyataan.
  • Lingkungan membuatnya konsisten dengan keyakinan pasien.

Jika konsep diri tidak konsisten dengan perilaku, pasien dapat mengubah :

  • Perilaku yang sesuai dengan konsep diri
  • Keyakinan yang melatar belangi konsep diri termasuk perilaku
  • Ideal diri

Dorong pasien untuk merumuskan tujuannya sendiri (bukan tujuan anda).

Bahas bersama konsekuensi yang bersifat emosional, pratikal dan realistic dari tiap tujuan.

Bantu pasien untuk menjabarkan secara jelas perubahan konkrit yang di inginkan.

Gunakan latihan peran, contoh peran, permainan peran, dan visualisasi jika sesuai.

Tahap 5:

Bantu pasien melakukan tindakan yang di perlukan untuk mengubah respons koping maladaptive dan mempertahankan respons dengan yang lebih adaptif.

Tujuan: membantu pasien agar bertekad untuk membuat keputusan dan mencapai tujuan sendiri.

Tujuan utama dalam meningkatkan penghayatan adalah membantu pasien mengganti respons koping yang maladaptive dengan yang lebih adaptif.

Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengalami suatu keberhasilan.

Dukung kekuatan, ketrampilan, dan aspek yang sehat dari kepribadian pasien.

Dukung pasien untuk memperoleh bantuan (pekerjaan, financial, pelayanan masyarakat).

Gunakan kelompok untuk meningkatkan harga diri pasien.

Tingkatkan perbedaan diri pasien dalam keluarga.

Beri pasien waktu yang cukup untuk berubah.

Beri sejumlah dukungan yang sesuai dan positif untuk membantu pasien mempertahankan kemajuannya.

Evaluasi :

  1. Apakah ancaman terhadap integritas fisik atau system diri pasien telah menurun dalam sifat, jumlah, asal atau waktu?
  2. Apakah pperilaku pasien mencerminkan penerimaan diri, nilai diri, dan persetujuan diri, dan persetujuan diri yang lebih besar?
  3. Apakah sumber koping pasien sudah di kaji dan di kerahkan secara adekuat?
  4. Apakah pasien sudah meluaskan kesadaran diri dan melakukan eksplorasi dan evaluasi diri?
  5. Apakah pasien menggunakan respons koping yang adaptif?

 

SAK HARGA DIRI RENDAH ( HDR )

I.             Masalah Utama

Gangguan konsep diri : harga diri rendah

II.          Proses Terjadinya Masalah

1.      Pengertian

Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.

2.      Tanda dan Gejala

Menurut Carpenito, L.J (1998 : 352); Keliat, B.A (1994 : 20)

a.       Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan terhadap penyakit. Misalnya : malu dan sedih karena rambut jadi botak setelah mendapat terapi sinar pada kanker

b.      Rasa bersalah terhadap diri sendiri. Misalnya : ini tidak akan terjadi jika saya segera ke rumah sakit, menyalahkan/ mengejek dan mengkritik diri sendiri.

c.       Merendahkan martabat. Misalnya : saya tidak bisa, saya tidak mampu, saya orang bodoh dan tidak tahu apa-apa

d.      Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri. Klien tidak ingin bertemu dengan orang lain, lebih suka sendiri.

e.       Percaya diri kurang. Klien sukar mengambil keputusan, misalnya tentang memilih alternatif tindakan.

f.       Mencederai diri. Akibat harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien ingin mengakhiri kehidupan.

3.      Penyebab

Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dan dapat terjadi secara :

a.      Situasional

Yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba).

Pada klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah, karena :

—  Privacy yang kurang diperhatikan, misalnya : pemeriksaan fisik yang sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan (pencukuran pubis, pemasangan kateter, pemeriksaan perneal).

—  Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/ sakit/ penyakit.

—  Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai, misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, berbagai tindakan tanpa persetujuan.

b.      Kronik

Yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit/ dirawat. Klien ini mempunyai cara berfikir yang negatif. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan respons yang maladaptive. Kondisi ini dapat ditemukan pada klien gangguan fisik yang kronis atau pada klien gangguan jiwa.

Tanda dan Gejalanya :

Data subjektif : mengungkapkan ketidakmampuan dan meminta bantuan orang lain dan mengungkapkan malu dan tidak bisa bila diajak melakukan sesuatu.

Data objektif : tampak ketergantungan pada orang lain, tampak sedih dan tidak melakukan aktivitas yang seharusnya dapat dilakukan, wajah tampak murung.

4.      Akibat

Harga diri rendah dapat beresiko terjadinya isolasi sosial : menarik diri, isolasi sosial menarik diri adalah gangguan kepribadian yang tidak fleksibel pada tingkah laku yang maladaptive, mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial (DEPKES RI, 1998 : 336).

Tanda dan gejala :

Data Subyektif :

a.       Mengungkapkan untuk memulai hubungan/ pembicaraan

b.      Mengungkapkan perasaan malu untuk berhubungan dengan orang lain

c.       Mengungkapkan kekhawatiran terhadap penolakan oleh orang lain

Data Obyektif :

a.       Kurang spontan ketika diajak bicara

b.      Apatis

c.       Ekspresi wajah kosong

d.      Menurun atau tidak adanya komunikasi verbal

e.       Bicara dengan suara pelan dan tidak ada kontak mata saat berbicara

III.       Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji

No

Masalah Keperawatan

Data Subyektif

Data Obyektif

1 Masalah utama : Gangguan konsep diri : harga diri rendah –   Mengungkapkan ingin diakui jati dirinya

–   Mengungkapkan tidak ada lagi yang peduli

–   Mengungkpakan tidak bisa apa-apa

–   Mengungkapkan dirinya tidak berguna

–   Mengkritik diri sendiri

–   Merusak diri sendiri

–   Merusak orang lain

–   Menarik diri dari hubungan sosial

–   Tampak mudah tersinggung

–   Tidak mau makan dan tidak tidur

2 MK : Penyebab Keputusasaan –   Mengungkapkan ketidakmampuan dan meminta bantuan orang lain

–   Mengungkapkan malu dan tidak bisa bila diajak melakukan sesuatu

–  Tampak ketergantungan pada orang lain

– Tampak sedih dan tidak melakukan aktivitas yang seharusnya dapat dilakukan

– Wajah tampak murung

3 MK : Akibat Isolasi sosial : menarik diri –   Mengungkapkan tidak berdaya dan tidak ingin hidup lagi

–   Mengungkapkan enggan berbicara dengan orang lain

–   Klien malu bertemu dan berhadapan dengan orang lain

–  Ekspresi wajah kosong

– Tidak ada kontak mata ketika diajak bicara

– Suara pelan dan tidak jelas

 


TGL DIAGNOSA

KEPERAWATAN

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

RASIONAL

TUJUAN

KRITERIA EVALUASI

INTERVENSI

Isolasi sosial: menarik diri b. d. harga diri rendah (I)/3

TUM:

Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal

TUK 1:

Klien dapat membina hubungan daling percaya

TUK 2:

Klien dapat meng identifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

TUK 3:

Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan

TUK 4:

Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki

TUK 5:

Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuannya

TUK 6:

Klien dapat memanfaatkan system pendukung yang ada

 

 

Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, klien mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi

2.1  Klien mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki:

o  kemampuan yang dimiliki

o  Aspek positif keluarga

o  Aspek positif lingkungan yang dimiliki klien

3.1   klien menilai kemampuan yang dapat digunakan

4.1 Klien membuat rencana kegiatan harian

5.1 Klien melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi sakitnya

6.1. Klien memanfaatkan system pendukung yang ada di keluarga

 

1.1.1        Bina hubungan saling percaya:

§  sapa klien

§  Beri salam/panggil nama klien

§   Tanyakan nama panggilan kesukaan klien

§   Sebutkan nama perawatan sambil berjabat tangan

§   Jelaskan maksud hubungan interaksi

§   Jelaskan kontrak yang akan dibuat

§   Beri rasa aman dan sikap empati

§   Beri perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien

2.1.1        diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien

2.1.2        Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif

2.1.3        Utamakan memberi pujian yang realistic

3.1.1        Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat dilakukan

3.1.2        Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan

4.1.1        Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dialakukan setiap hari sesuai kemampuan

4.1.2        Tingkatkan kegiatan yang sesuai dengan toleransi kondisi klien

4.1.3        Beri contoh pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan

5.1.1        Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan

5.1.2        Beri pujian atas keberhasilan klien

5.1.3        Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah

6.1.1        Beri pend kes pada keluarga tentang cara merawat klien dengan HDR

6.1.2        Bantu keluarga dalam memberi dukungan pada klien

6.1.3        Bantu keluarga menyiapkan lingkungan rumah

 

 

 

membina hubungan saling percaya untuk kelancaran hubungan interaksi selanjutnya

§  Diskusikan tingkat kemampuan klien seperti menilai realita, kontrol diri, atau integritas ego, diperlukan sebagai dasar asuhan keperawatan

§  Reinforecement akan meningkatkan harga diri klien

§  Pujian realistic tidak menyebabkan klien melakukan kegiatan hanya karena ingin mendapatkan pujian

o  Keterbukaan dan pengertian tentang kemampuan yang dimiliki adalah prasarat untuk berubah

o  Pengertian tentang kemampuan yang dimiliki diri memotivasi untuk tetap mempertahankan penggunaannya

o  Klien adalah individu yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri

o  Klien perlu bertindak secara realistis dalam kehidupan

o  Contoh peran yang dilihat klien akan memotivasi klien untuk melakukan kegiatan

o memberi kesempatan kpd klien mandiri dapat meningkatkan motivasi harga diri

o Pujian dapat meningkakan harga diri

o Memberi kesempatan pada klien untuk melakukan kegiatan yang biasa dilakukan

§ Mendorong keluarga untuk mampu merawat klien mandiri di rumah

§ Support system keluarga akan sangat berpengaruh pada mempercepat proses penyembuhan klien

§ Meningkatkan peran serta keluarga dalam merawat klien di rumah


DAFTAR PUSTAKA

 

Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999

Keliat Budi Ana, Gangguan Konsep Diri, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999

Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi II, Jakarta : EGC, 2005

Perry & Potter.2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Volume 1,Edisi 4. Jakarta: EGC.

Stuart, Gail Wiscarz, Buku Saku Keperawatan jiwa. Jakarta .EGC, 1998

Townsend, Mary C, Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri, Edisi 3, Jakarta : EGC, 1998

Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP Bandung, 2000

http://ahyarwahyudi.wordpress.com/2010/02/11/konsep-diri-dan-mekanisme-koping-dalam-proses-keperawatan/

Tentang janewinarni

I'm a nurse
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s